Aktivitas proses belajar-mengajar di OKAOM Macet

Aktivitas proses belajar-mengajar di OKAOM Macet

“SMP Negeri Okaom: kami butuh guru yang serius betah di Alikyop dan mengajar. Bukan guru yang datang lepaskan sisik dan pergi tak kembali-kembali. Karena kami mau belajar supaya cerdas” (Siripkon Bitdana).

Okaom, Kabar Goodide.my.id – Menjadi guru adalah sebuah panggilan. Karena disebut dengan panggilan, maka guru harus betah, tinggal di tempat dan menjalankan tugas mulia sebagai guru. SMP Negeri Ok Aom, saya melihat dan merasakan suasana belajar sepih. Sepih dalam proses belajar di dalam ruang kelas. Setiap minggu, guru masuk sekolah hanya 3-4 empat guru. Yang lain, entah dimana mereka berada. Siswa masuk sekolah. Meskipun itu, siswa hanya bermain di luar kelas. Lalu pertanyaan muncul dibenak saya; Apakah guru di SMP Ok Aom tidak ada? Ya, saya amati lagi, ada guru SMP Negeri Okaom tinggal di wilayah kota.

Mereka datang di sekolah mengajar satu sampai dua kali dalam seminggu. Setelahnya, tidak masuk mengajar. Sementara Ada guru-guru Sebagian yang masuk pada saat dekat ujian saja . Namun itupun, Mengajar dua kali atau atau tiga kali materinya diujiankan. Hasil nilai diserahkan ke sekolah dan libur duluan.



Dalam rekapan hasil ujian nilai siswa, ada sejumlah siswa yang harus diremedikan. Namun, guru tidak ditempat dan lakukan ujian remedi. Sebagian guru yang masih aktif di sekolah,  menjadi beban. Nah, yang model ini perlu dinas pendidikan melalui pengawas sekolah harus diperketat agar guru betah dan mengajar di sekolah. Siswa jadi cerdas tergantung keaktifan guru di sekolah. Siswa punya keinginan besar untuk datang ke sekolah dan ingin belajar. Tetapi guru jadi pemalas, saat 5 (lima) bulan terakhir, hampir guru sebagian besar tidak aktif mengajar sampai ujian akhir semester diselenggarakan. Ada salah satu kebiasaan guru-guru yang belum pernah sadari adalah libur duluan sebelum pembagian rapot.


Selain itu, kebiasaan lain adalah izin cuti karena suami sakit, melahirkan, dan sebagainya sampai lupa masuk sekolah. Ada juga melihat kondisi geografis yang jauh, sering tidak masuk sekolah. Ya. Kalau jau, sakit, atau apa, jangan memaksakan diri untuk datang ke pekerjaan di pedalaman.



Ada penilaian khusus dari siswa yang sering curhat dengan saya, bahwa “kami biasa datang ke sekolah, tunggu bapa/ ibu guru sampai guru tidak masuk sekolah, kami pulang. Ada teman-teman yang sering bolos, karena tidak ada guru. Ada yang tidak masuk sekolah karena kita ke sekolah juga guru tidak datang jadi percuma sekolah. Setiap minggu, kami masuk sekolah. Ada guru yang masuk satu kali, ada juga yang sama sekali tidak masuk baru nanti saat ujian mereka masuk bikin soal ujian. Terus kami jawab soal ujian tanpa ada materi. Jadi kami mau supaya, tahun ajaran baru guru-guru harus aktif supaya kami belajar”.

Hasil curhatan siswa dengan saya di sekolah, membuat saya merasa sedih. Dan terkadang saya berpikir, seandainya saya orang serba bisa. Kondisi dan realitas di lapangan khusus pendidikan di pedalaman, sangat membutuhkan tenaga guru yang setia, betah, dan mengajar di sekolah.

Akibat  guru tidak aktif dalam proses belajar-mengajar yang tidak secara serius mengajar di sekolah, saya juga melihat proses pekermbangan belajar siswa/i sangat rendah. Misalnya, waktu jam class free, saya gabungkan siswa/i dari kelas VII-IX  masuk di ruang kelas VII uji matematika dasar, yaitu pengurangan, penjumlahan dan perkalian. 95% anak-anak masih rendah dalam menghitung matematika dasar. Yang anehnya adalah kelas IX (sembilan) yang nanti akan ujian tahun besok, belum bisa menjawab soal matematika dasar perkalian. Hal ini menurut saya, ada beberapa factor penyebab anak-anak belum bisa mampu mengusai matematika dasar, yakni 6 (enam) poin menjadi kekurangan guru sebagai berikut:


  1. Kurang control dari orang tua terhadap anak di rumah untuk belajar. Sebagai orang tua, harus memberikan nasihat-nasihat dengan didikan yang militant terhadap anak agar anak benar-benar dewasa dari orang tua. Sebab factor lingkungan membawa pengaruh yang  cepat, baik pengaruh positif maupun negative yang dampaknya akan mempengaruhi perkembangan anak di lingkungan masyarakat;
  2. Guru-guru di Sekolah Dasar (SD) belum serius mendidik anak;
  3. Kepengawasan dari dinas pendidikan yang sangat lamban;
  4. Kebijakan pemerintah yang tidak konsisten dan berpikir linier terhadap masalah pendidikan di Pegunungan Bintang membuat anak-anak sekolah khususnya yang ada di pedalaman luar kota masih minim dalam proses belajar.
  5. Guru tidak mengajar di sekolah karena gajinya tidak dibayarkan.
  6. Alasan guru: Mau masuk mengajar tapi, gajinya ditahan bendahara dsb.



Situasi dan kondisi (sikon) ini menggambarkan bahwa di Pegunungan Bintang, butuh tenaga pendidik yang benar-benar betah di tempat dan mengajar. Sebab kondisi pendidikan yang terjadi ini adalah menggambarkan tindakan perbudakan, pembodohan, yang sedang dibangun oleh para kepentingan pecukong. Datang mengajar atau tidak, yang penting ada duit.  Dunia kerja saat ini, orang lebih motivasi uang daripada motivasi untuk kegiatan kemanusiaan.

Saya sebagai calon PNS yang SK CPN di SMP Negeri Okaom, dengan melihat kondisi keaktifan belajar siswa di sekolah, saya berharap pemerintahan baru nanti, pendidikan menjadi titik focus utama untuk menghapus kebodohan, perbudakan, keterbelakangan, dan penindasan. Sasaran utama kebijakan dalam kemajuan pendidikan adalah tercipatakannya tenaga guru. Pemerintah harus mengaktifkan kembali lembaga-lembaga yang pernah MOU seperti Sanata Dharma University, Surya University, dan Yayasan Binterbusih di Semarang, Jawa tengah bersama pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang agar tenaga pengajar di Pegunungan Bintang harus orang asli Pegunungan Bintang agar aktivitas mengajar di  sekolah tidak ketinggalan.



Saya yakin, jika tenaga guru adalah orang asli Pegunungan Bintang, akan betah dan mengajar dengan sungguh-sungguh. Akan muncul keprihatinan dan rasa tanggungjawabnya akan terus diasa tumbuh untuk mendidik anak-anak di sekolah sebagai warganya. Nelson Mandela, tokoh pembebasan Rakyat Kulit Hitam Afrika Selatan, mengatakan bahwa “pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia”. Oleh sebab itu, pendidikan di Pegunungan Bintang harus berpikir militansi dan ciptakan sumber daya manusia yang unggul, cerdas, dan pekah terhadap menanggapi berbagai persoalan di daerah terlebih khusus di bidang pendidikan sebagai kebutuhan fital untuk merubah kondisi pendidikan di PEGBIN. Kita harus belajar dari pengalaman Negara Jepang, Jepang berhasil bangkit dari keterpurukan pasca bom atom yang menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki dengan bertumpu pada pendidikan. Kaisar Hirohito mengumpulkan para jenderal yang tersisa. Kepada mereka, lalu Kaisar menanyakan “berapa jumlah guru yang masih hidup”?.


Ternyata Kaisar punya pemikiran visioner. Hirohito tahu bahwa Jepang telah kalah. Dan kekalahan itu karena Jepang kalah dalam belajar. Sehingga tidak mampu mendeteksi ada bom yang bisa dibuat sedahsyat itu. Maka Kaisar Hirohito, kekuatan militer dan pasukan Jepang, tidak akan mampu menandingi jika perang terus dilanjutkan. Oleh sebabnya, Hirohito ingin membangun kembali Jepang, dengan membuat rakyat Jepang maju seperti pasca sebelum terjadi pengemboman dua kota terpenting itu, hal terpenting utama yang dibangun adalah pendidikan. Dan kini, setelah 75 tahun, Jepang telah membuktikan diri sebagai Negara maju dengan beragam keunggulan dalam bidang teknologi. Dengan semangat ini, Pegunungan Bintang yang tertinggal jauh dari segala aspek selama lima tahun, kalau rakyat Pegunungan Bintang berpikir cerdas dan bijaksana memilih pemimpin baru, maka tahun keberuntungan sudah tiba dan saya yakin gunung-gunung akan nyalakan bintang dan tak ada lagi lemba-lemba dan dataran pesisir  yang mengalami kegelapan sepanjang segala masa.



Beberapa hal penting, kami dari siswa/si SMP Negeri Okaom merekomendasikan untuk pemerintah baru, yaitu sebagai berikut:

  1. Berikan guru kesejahteraan yang layak agar guru aktif mengajar di sekolah
  2. Melalui Dinas Pendidikan melakukan kepangawasan yang ketat agar guru disiplin dan bertangungjawab di sekolah.
  3. Tempatkan tenaga pendidik yang mudah adaptasi dengan budaya serta lingkungan di masyarakat.
  4. Membangun etika yang baik di sekolah dan di masyarakat agar tercipta lingkungan yang sehat dan cerdas.

Baca Juga:

Penulis: Opni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *