Pandemi Covid-19 Membuat Masyarakat kesulitan Dapat Makan

Masyarakat Sulit Mendapatkan Makan

Masyarakat mulai terbiasa dengan bahasa lockdown, karantina, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan seakan menjadi pembasahanan setiap hari dalam kehidupan kita.

Masyarakat mulai terbiasa dengan bahasa lockdown, karantina, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan seakan menjadi  pembasahanan setiap hari dalam kehidupan kita




KABARGOODIDE.MY.ID – Masyarakat mulai terbiasa dengan bahasa lockdown, karantina, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan seakan menjadi  pembasahanan setiap hari dalam kehidupan kita. Bahkan tak sadar sebagian dari kita mendadak menjadi pengamat kesehatan dan pengamat kebijakan pemerintah. Akan tetapi kurang dalam implementasi di lapangan.

Terlebih lagi Covid-19 mulai merajalela tepat sebelum bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri dimana secara sosial dan budaya, moment Ramadhan dan Idul Fitri menjadi moment spesial bagi umat Islam dan masyarakat Indonesia Umat Islam khususnya. Berkah Ramadhan dan Idul Fitri bukan hanya berbicara tentang spiritual akan tetapi nilai sosial dan sisi ekonomi.

Ditengah wabah yang tak kunjung selesai, berbagai persoalan muncul mulai dari pro dan kontra dalam pengambilan kebijakan pemerintah. Dari awal, seakan pemerintah tidak siap dengan gempuran virus ini. Terlepas apakah bangsa ini mau mengamankan ekonomi nasional ataukah mau menyelamatkan masyarakat. Hal ini jelas menjadi pilihan yang tidak mudah dan membutuhkan pertimbangan yang berat.

Saat bangsa lain menerapkan sistem lockdown, bangsa Indonesia mengambil langkah tengah dengan bahasa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dimana sistem ini meminimalisir kegiatan sosial yang mengumpulan masyarakat dalam jumlah banyak dan juga menerapkan prototol social distancing dengan tujuan memutus mata rantai penularan wabah ini, dengan harapan aktifitas perekonomian tetap berjalan dan rantai penularan bisa terputus secara bertahap.

Masyarakat Indonesia begitu heterogen. Pertumbuhan sektor ekonomi yang dibangun masyarakat, bertumpu pada pasar. Pasar konvensional menyumbang pertumbuhan ekonomi masyarakat terbesar, selain sektor-sektor lain. Sementara disisi lain pasar konvensional beresiko sangat tinggi, karena menjadi titik kumpul bertemunya penjual dan pembeli dalam skala besar. Hal inilah yang menjadikan pemerintah harus berhati-hati dalam pengambilan keputusan. Walaupun dalam setiap pengambilan keputusan akan ada konsekwensi lain yang terjadi. Inilah yang menyebabkan pemerintah Indonesia tidak sama dengan negara lain dalam mengambil langkah menangani pandemi ini.



Dalam berbagai komentar Muncul statement “lebih penting ekonomi atau nyawa masyarakat?”. Akan tetapi di arus bawah membalas “tidak mati karena pandemi tapi karena tidak ada nasi”. Ini bagaikan pisau bermata dua ketika salah sedikit saja maka dampaknya luar biasa. Sehingga dibutuhkan solusi yang solutif dan diperlukan kesepahaman bersama.

Pandemi yang melanda dunia dan tak terkecuali bangsa Indonesia   melumpuhkan perekonomian. Sehingga diharapkan kebijakan yang mampu menyelamatkan baik kesehatan maupun stabilitas ekonomi masyarakat. Selain kebijakan pemerintah, pemahaman dan kesadaran dari masyarakat menjadi kunci utama memutus mata rantai pandemi ini.

Sebaik apapun kebijakan yang digulirkan pemerintah jika tidak didukung oleh semua elemen masyarakat, maka kebijakan hanya akan menjadi nyanyian sumbang tak bertuan. Karena pada dasarnya pandemi ini menyerang kepada masyarakat sementara pemerintah adalah imbas.

Penulis : Alex Arida

Editor:  Admin



Baca Juga : 



4 thoughts on “Pandemi Covid-19 Membuat Masyarakat kesulitan Dapat Makan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *