Masyarakat Menilai Pembagian BANSOS, tidak Tepat Pada Sasaran dan tidak Efektif

Masyarakat Menilai Pembagian BANSOS, tidak Tepat Pada Sasaran dan tidak Efektif,

Masyarakat Menilai Pembagian BANSOS, tidak Tepat Pada Sasaran dan tidak Efektif

Masyarakat Menilai Pembagian BANSOS, tidak Tepat Pada Sasaran dan tidak Efektif, Sebanyak 49% menyatakan bantuan sosial itu belum mencapai sasaran. Hal itu dikarenakan pembagiannya tidak merata

Semarang, Kabar Goodide.my.id – Masyarakat menilai bantuan sosial dari pemerintah untuk penanggulangan dampak pandemi virus korona atau covid-19 belum efektif. Sebanyak 49% menyatakan bantuan sosial itu belum mencapai sasaran. Hal itu dikarenakan pembagiannya tidak merata



Dalam pembagian bantuan sosial yang terdampak covid-19 saat ini ada dua program yang sedang dijalankan oleh pemerintah yaitu, pembagiaan sembako dan pembagian uang tunai.


Berikut progaram bantuan sosial yang saat ini sedang berjalan oleh pemerintah yang mana masyarakat meniliai pembagiaan tersebut tidak tepat pada sasaran atau tidak efektif:

  1. Bantuan Sembako

Dalam menangani pandemi Covid-19 pemerintah memberikan beberapa bentuk bantuan sosial, salah satunya berupa paket sembako yang dikucurkan sejak awal pandemi Covid-19 yang terjadi di Indonesia pada Maret.  Bantuan ini diberikan bagi warga negara Indonesia.

Namun factor permasalahan utama adalah pembagian BLT atau Bansos tersebut tidak tepat pada sasarannya. Oleh sebab itu, hampir 49% masyarakat yang kalangan tidak mampu mereka tidak dapat bagian dengan bantuan tersebut

  • Bantuan Tunai

Kemudian program pembagian bantuan sosial adalah dengan bantuan tunai. Dalam pembagian tunai tersebut juga masyarakat menilai tidak merata dalam pembagiaannya.




Harusnya pemerintah lebih mementingkan kalangan tidak mampu dulu baru yang lain. Namun tak heran bila masih saja ada yang menepoli data sehingga seolah-olah masyarakat miskin juga telah mendapatkan bantuan tersebut, padahal tidak. Faktanya di sosial media masih banyak yang menantang terhadap implementasi pembagian bantuan tersebut.

Berdasarkan lapangan, kalangan masyarakat bawah tidak mendapatkan bantuan tersebut dari Lembaga manapun baik dari pemerintahan maupun swasta, sehingga penerapan pembagian ketidakmerataan tersebut menimbulkan dampak yang sangat buruk bagi kalangan bawah termasuk masyarakat yang tidak mampu.

Tidak semestinya dalam pembagian BLT tersebut membuat kalangan yang tidak mampu lebih tertekan dalam kemiskinan, mereka mampu bertahan hidup walaupun hanya nasi tanpa lauk.



Dari berbagai daerah diindonesia, kalangan bawah ini mereka tidak menikmati atau mendapatkan bantuan tersebut. Hal itu karena pembagian yang begitu tidak merata. Oleh sebab itu, masyarakat kecil atau kalangan bawah ini menganggap bahwa dalam pembagian bansos hanya menjadi informasi semata.

  • Bantuan Tarif Listrik

Insentif tarif listrik bagi pelanggan yang terdampak pandemi Covid-19 juga diberikan pemerintah masa pandemi berlangsung. Insentif ini berupa pembebasan tagihan, diskon listrik, dll.

Namun dalam bantuan tersebut juga masih saja ada masyarakat yang masih membayar dengan uang sendirinya. Pada umunya masyarakat tidak mendapatkan bantuan tesebut, yang menikmati bantuan biaya listrik ini juga hanya kalangan pemerintahan saja bukan masyarakat

  • Kartu Prakerja

Bantuan lainnya adalah Kartu Prakerja yang menurut pemerintah bisa membantu karyawan yang merupakan dampak dari pandemi Covid-19 dan pengangguran. Peserta dari program ini akan mendapatkan bantuan insentif untuk pelatihan kerja sebesar Rp 1 juta per bulannya. Pemerintah memberikan dana sebesar Rp 3.550.000 bagi peserta yang lolos sebagai penerima Kartu Prakerja 2020. Riciannya, sebesar Rp 1.000.000


Namun pada kenyataannya masyarakat mengatakan bahwa kartu prakerja ini tidaklah efektif membantu saat pandemi, karena yang dibutuhkan masyarakat saat ini adalah bantuan yang bisa langsung diakses dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Banyak dari mereka yang tidak setuju dengan adanya kartu prakerja ini, yang hanya mengucurkan dana untuk kepentingan para pebisnis digital saja.

Jika melihat dari letak geografis  dari wilayahnya yang berbeda-beda. Tentunya mempunyai kekurangan yang singnifikan terjadi dan selalu diabaikan. Hal itu karena setiap wilayah Indonesia akses internetnya tidak bisa bahkan ada daerah yang belum ada jaringannya sampai saat ini.



Bayangkan saja bagi para pegawai yang bekerja di pedesaan atau jauh dari akses internetnya. Termasuk Kesehatan dan guru. Hal itu sangat tidak memngkin bagi mereka oleh sebabnya mereka menilai bahwa dalam program Kartu Prakerja ini tidak tepat dan tidak efektif.

  • BLT UMKM

Bantuan sosial yang terakhir diumumkan oleh Jokowi pada tanggal 24 Agustus 2020 lalu. Program ini adalah bantuan modal usaha bagi para pelaku usaha mikro kecil berupa dan hibah atau BLT. Bantuan senilai Rp. 2,4 juta tersebut akan ditransfer melalui rekening untuk kemudian diakses oleh para pelaku usaha mikro tersebut.

Rencananya bantuan itu akan dibagikan kepada 12 juta usaha mikro kecil secara bertahap. Syarat untuk mendapatkan bantuan tersebut apabila para pelaku usaha mikro tersebut belum pernah menerima bantuan pinjaman dari perbankan. Pemerintah juga berharap pelaku usaha mikro kecil itu aktif mendaftarkan diri ke dinas koperasi setempat.

Namun dalam pembagian bantuan sosial tersebut juga masyarakat menilai tidak tepat pada sasaran. Masyarakat menilai dalam pembagian bantuan sosial tersebut tidak merata.

Faktanya terbukti masih saja banyak masyarakat yang tidak menerima bantuan sosial tersebut. Banyak masyarakat termasuk saya sendiri juga tidak mendapatkan seluruh program bantuan tersebut.



Harapan Masyarakat

Saya sebagai penulis mewakili seluruh masyarakat kalangan bahwa atau kemiskinan ini bahwa harapan mereka Cuma 1 (satu) yaitu perlakukan mereka juga seperti masyarakat kalangan menengah dan kalangan diatas, tanpa membedahkan satu dari yang lainnya.

Berdasarkan bantuan sosial yang sangat tidak merata maka harapan mereka semoga untuk kedepannya pemerintah turun tangan sendiri dalam pembagiaan bantuan sosial tersebut, bilah perlu jalan rumah-ke rumah, dan saya yakin semua masyarakat akan merasakan dan menikmati bantuan tersebut

Kalangan bawah inilah penderitaan yang sesungguhnya, bukan kalangan menengah atau atas. Mereka merasakan penderitaan itu betul-betul. Mereka yang tau bagaimana kehidupan itu keras. Apalagi saat massa pandemic covid-19 ini, mereka sangat membutuhkan bantuan dan perhatian dari pemerintah.

Penulis: Utuma (MSG)

Baca Juga



2 thoughts on “Masyarakat Menilai Pembagian BANSOS, tidak Tepat Pada Sasaran dan tidak Efektif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *